SWARAMANDAR.COM, POLMAN — Dusun Bala, Desa Sayoang, Kecamatan Alu – Masyarakat Dusun Bala, Kabupaten Polewali Mandar, akhirnya bertindak sendiri. Mereka sepakat mengusir seorang pria bernama Tepu, warga asal Kalukku, Kabupaten Mamuju, yang dianggap telah berulang kali meresahkan kehidupan warga setempat.
Kehadiran Tepu di dusun itu disebut menjadi mimpi buruk bagi masyarakat. Hampir setiap hari ada laporan kebun warga yang dirusak. Tanaman pisang, kelapa, coklat tangga yang dipakai memanjat ambil sari tuak manis dibuat untuk gula merah dan tanaman pangan lain yang menjadi sumber penghidupan warga hancur tanpa alasan jelas.
Tak hanya merusak kebun, Tepu bahkan disebut sering mengancam anak-anak sekolah. Dengan membawa sebilah parang, ia mengejar anak-anak yang baru pulang sekolah. Ancaman ini membuat banyak orang tua ketakutan, bahkan terkadang terpaksa menjemput anak mereka setiap hari.
“Dia tidak punya pekerjaan jelas, kalau tidak merusak kebun orang, ya mengejar anak-anak dengan membawah parang,” ujar salah seorang warga dengan nada marah. Suasana di Dusun Bala pun berubah mencekam karena kehadiran Tepu.
Laporan masyarakat sejatinya sudah berulang kali diajukan ke pihak kepolisian. Namun ironisnya, sampai saat ini tidak ada tindakan tegas yang dilakukan aparat. Situasi ini membuat warga kecewa sekaligus kehilangan rasa percaya.
“Kalau kita tunggu polisi bertindak, tidak akan ada hasilnya. Buktinya sampai hari ini Tepu masih bertingka merusak kebun masyarakat dan masi berkeliaran bebas di kampung,” ungkap warga lainnya dengan nada getir. Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap aparat penegak hukum.
Rasa kesal dan jenuh akhirnya mencapai puncak setelah membabat/menebang pohon coklat yang siap berbuah menggunakan parang dan Warga pun berinisiatif melakukan pengusiran terhadap Tepu. Mereka menilai, jika tidak bertindak, keresahan masyarakat tertambah, terutama anak-anak, akan terus terancam.
Aksi pengusiran itu dilakukan dengan kebersamaan. Warga menilai tidak ada pilihan lain selain melindungi diri mereka sendiri dari ancaman yang terus berulang. “Kami tidak ingin ada korban. Kalau aparat tidak turun tangan, kami harus menjaga kampung kami sendiri,” tegas warga.
Namun, meski telah diusir, rasa khawatir masih membayangi. Banyak warga takut jika Tepu kembali datang dengan kemarahan yang lebih besar bisa jadi rumah pun dia akan rusak atau dia bakar disaat warga tidak ada dikampung. Sehingga trauma sudah terlanjur tertanam dalam diri anak-anak maupun warga.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa aparat tak segera bertindak meski laporan sudah berkali-kali diajukan? Apakah harus ada korban jiwa dulu sebelum hukum benar-benar ditegakkan?
Masyarakat berharap, pemerintah daerah dan aparat keamanan segera mengambil sikap tegas. Mereka menilai, pembiaran hanya akan memperburuk keadaan. “Kami tidak minta banyak, hanya butuh perlindungan dan rasa aman di tanah kami sendiri,” ujar warga dengan penuh harap.
Kini, Dusun Bala masih hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Warga hanya bisa berharap, suara mereka kali ini benar-benar didengar, agar peristiwa kelam akibat ulah Tepu tidak lagi terulang.







