SWARAMANDAR.COM, MAMUJU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mengambil langkah tegas dan strategis dalam menanggulangi dua masalah krusial: stunting dan kemiskinan ekstrem. Melalui program PASTI PADU (Pencegahan dan Penanganan Stunting & Kemiskinan Ekstrem Terpadu), Dinas Kesehatan Sulbar menggelar workshop di Ruang Pola Kantor Bupati Mamuju pada Senin, 4 Agustus 2025.
Workshop ini menjadi panggung penguatan komitmen lintas sektor, yang dihadiri oleh Sekda Mamuju, jajaran kepala OPD Pemkab Mamuju, perwakilan Tim Penggerak PKK, Baznas, TNI/Polri, dan tokoh masyarakat dari berbagai kecamatan dan desa.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, dalam laporannya menyampaikan bahwa angka stunting di Sulbar mengalami lonjakan cukup signifikan. Dari 30,3% di tahun sebelumnya, kini naik menjadi 35,4%, jauh di atas ambang batas nasional. Sementara itu, angka kemiskinan ekstrem di Sulbar juga mencapai 1,46%, melebihi rata-rata nasional yang hanya 0,83%.
“Kita tidak boleh lagi memperlakukan PASTI PADU sebagai program biasa. Ini harus menjadi gerakan kolektif yang masif, berkelanjutan, dan terukur. Ini tentang masa depan anak-anak kita,” tegas dr. Nursyamsi.
Ia juga menyampaikan bahwa program ini tidak hanya tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi menjadi tugas bersama seluruh OPD, lembaga sosial, dan elemen masyarakat. Dalam arahan Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, ditegaskan bahwa setiap anak Sulbar berhak atas gizi, sanitasi, pendidikan, dan perlindungan sosial yang layak.
Sebagai langkah awal, dua desa di Kabupaten Mamuju ditetapkan sebagai lokus prioritas PASTI PADU tahun 2025, yakni:
Kelurahan Bebanga, Kecamatan Kalukku
Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro
Keduanya akan menjadi pilot project intervensi terpadu dari berbagai sektor. Pemerintah menargetkan perluasan hingga 60 desa/kecamatan di seluruh Sulbar pada tahun 2026.
Dalam sambutannya, dr. Nursyamsi juga mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja lebih cepat dan lebih tepat.
“Jangan hanya bicara program di atas kertas. Kita harus pastikan bantuan gizi, sanitasi, pendidikan, dan perlindungan sosial sampai ke tangan keluarga yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Workshop ini juga menjadi momen konsolidasi semua pihak yang terlibat agar gerakan PASTI PADU menjadi simbol perubahan nyata di Sulbar. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Mamuju, menandai dimulainya kerja bersama yang lebih fokus dan terarah.
PASTI PADU bukan sekadar program – ini adalah gerakan moral untuk menyelamatkan generasi masa depan Sulbar.







