Kerja Senyap Intelkam Polres Majene: Di Balik Malam Tahun Baru Tanpa Insiden, Peran Kunci Akp Borahim S.H. Terkuak

SWARAMANDAR.COM, MAJENE — Ketika kembang api melambung tinggi dan ribuan warga Kabupaten Majene merayakan pergantian tahun 2026 dengan antusias, publik hampir tak menyadari bahwa malam damai tanpa insiden besar itu adalah hasil dari serangkaian operasi intelijen yang digerakkan jauh sebelum hari H, 31 Desember.

Di balik layar, Satuan Intelijen dan Keamanan (Intelkam) Polres Majene, yang dipimpin langsung Akp Borahim, S.H., menjalankan kerja senyap yang menjadi tulang punggung keamanan selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Berbeda dengan pola reaktif yang kerap dikritik publik, Intelkam memilih pendekatan pre-emptive (pencegahan awal). Sejak awal Desember 2025, tim telah menyusun peta kerawanan secara rinci—meliputi potensi konflik sosial, aktivitas kelompok berisiko, hingga kerawanan non-konvensional seperti bencana akibat curah hujan ekstrem. Pendekatan ini memungkinkan aparat memotong risiko sebelum berkembang menjadi peristiwa, sehingga selama malam Natal dan pergantian tahun, Majene tercatat nihil gangguan kamtibmas yang menonjol.

Baca Juga  Kapolres Majene Gelar Tadarusan Bersama Personel Dan Jamaah Masjid Nurul Ikhlas

Kerja Intelkam tidak hanya berhenti pada pengumpulan data. Yang lebih krusial adalah penggalangan dan komunikasi senyap dengan berbagai pemangku kepentingan: tokoh masyarakat, tokoh agama, dan panitia kegiatan perayaan. Langkah ini bukan sekadar koordinasi formal, melainkan upaya menutup celah konflik sejak dini. Potensi gesekan sosial berhasil diredam tanpa perlu pendekatan represif berlebihan.

Baca Juga  Berbagi Keberkahan di Bulan Suci, Kapolres Majene Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan Al Ma’wa Simullu

Dalam rangka Operasi Lilin 2025, informasi intelijen menjadi dasar penempatan personel di titik rawan seperti lokasi ibadah dan pusat konsentrasi massa. Secara nasional, sekitar 312 ribu personel dikerahkan di 2.903 pos pengamanan dan pelayanan. Namun, efektivitas di daerah seperti Majene sangat bergantung pada akurasi data intelijen lokal, bukan semata jumlah personel. “Tanpa data yang presisi, pengamanan hanya akan menjadi rutinitas,” ujar salah satu perwira kepolisian yang enggan disebutkan namanya.

Laporan akhir tahun Polri mencatat penurunan angka kejahatan umum selama periode Nataru 2025/2026. Fakta ini menegaskan bahwa stabilitas kamtibmas bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari kerja sistematis berbasis intelijen. Di Majene, Intelkam Polres muncul sebagai aktor kunci yang kerap luput dari sorotan, namun memiliki peran menentukan.

Baca Juga  Kapolres Polman Pimpin Evakuasi Beberapa Warga Imbas 2 Rumah Dirusak Massa di Passairang Polman

Meski sukses menjaga situasi kondusif, tantangan ke depan tetap berat: dinamika sosial yang berkembang, cuaca ekstrem, dan potensi konflik laten menjadi pekerjaan rumah. Namun, pelajaran jelas tergambar: ketika intelijen bekerja sejak hulu, aparat di hilir tidak perlu memadamkan api yang telah membesar.

Kepemimpinan Akp Borahim, S.H. dalam mengorkestrasi kerja intelijen selama Nataru 2025/2026 membuktikan bahwa keamanan publik paling efektif lahir dari kerja yang jarang terlihat, namun terukur dan berdampak nyata bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *