SWARAMANDAR.COM, POLMAN — Kesunyian dini hari di Lingkungan Alli-Alli, Kelurahan Takatidung, Polewali Mandar, pecah oleh kabar duka yang menyentak warga setempat. Pada Sabtu (6/12/2025) sekitar pukul 04.00 WITA, seorang warga bernama Heba (38) ditemukan meninggal dunia di dapur rumahnya. Dugaan awal mengarah pada tindakan gantung diri, namun suasana kelam yang membungkus peristiwa itu meninggalkan beragam tanya di tengah masyarakat.
Malam sebelumnya, tidak ada yang tampak janggal. Menurut cerita sang istri, Rahmi (28), suaminya sempat terjaga dan mengeluhkan sakit perut hebat sekitar pukul 01.00 WITA. Kondisi itu bukan hal baru—selama beberapa bulan terakhir korban diketahui mengidap penyakit liver yang kerap membuatnya kesakitan. Namun malam itu, keluhan tersebut tampak lebih menusuk dan menahan gerak.
Rahmi kemudian berusaha menenangkan suaminya sebelum kembali beristirahat. Ia sama sekali tidak membayangkan bahwa beberapa jam setelah itu, hidupnya akan berubah selamanya.
Ketika terbangun sekitar pukul 04.00 WITA, Rahmi mendapati kamar dalam keadaan sunyi. Suara napas yang biasanya terdengar pelan di sampingnya tidak lagi ada. Merasa khawatir, ia memeriksa seluruh ruangan. Dari kamar tidur, ruang tengah, hingga halaman belakang—tidak ada tanda-tanda keberadaan suaminya.
Kegelisahan berubah menjadi kepanikan ketika ia melangkah menuju area dapur. Di sanalah ia menemukan pemandangan yang tak pernah ingin disaksikannya: suaminya telah meninggal dunia. Jeritan Rahmi memecah kesunyian. Dalam hitungan menit, keluarga dan tetangga berdatangan, sebagian berusaha menenangkan, sebagian lainnya langsung menghubungi pihak berwajib.
Polisi Bergerak Cepat tak lama setelah laporan masuk, personel gabungan Polsek Polewali dan Polres Polman menuju lokasi. Tim dipimpin oleh Pawas IPDA Subhan, bersama Pamapta II IPDA Moris Hendrieke, Kanit Reskrim Polsek Polewali AIPTU Ibrahim, SH, Ps. KA SPKT II AIPTU Nasrullah, serta Bhabinkamtibmas Kelurahan Takatidung AIPTU Andi Saiful.
Setibanya di sana, petugas langsung mengamankan area dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Cahaya senter menerangi sudut-sudut ruangan, sementara beberapa petugas mencatat setiap detail yang berpotensi relevan. Suasana penuh kesedihan bercampur dengan ketegangan penyelidikan.
“Prosedur harus tetap dilakukan,” ujar salah satu petugas kepada keluarga, dengan suara pelan, menghormati duka mendalam yang menyelimuti mereka.
Penyakit Kronis Diduga Pengaruhi Psikologis
Dalam pemeriksaan awal dan wawancara dengan keluarga, polisi mendapatkan gambaran mengenai kondisi korban beberapa bulan terakhir. Penyakit liver yang ia derita membuatnya sering mengeluh kesakitan, terutama pada bagian perut. Beberapa kali ia sempat tampak murung dan kelelahan menghadapi penyakit tersebut.
Meski demikian, keluarga tetap terkejut. Bagi mereka, Heba adalah sosok pekerja keras yang selama ini berupaya tetap kuat di hadapan istri serta keluarganya.
Dengan berat hati, keluarga menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menandatangani surat penolakan autopsi. Keputusan itu dibuat dengan pertimbangan kondisi kesehatan korban dan hasil pemeriksaan awal yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kekerasan.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi warga Takatidung. Beberapa tetangga yang mengenal korban menuturkan bahwa ia dikenal ramah dan jarang terlibat masalah.
Pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih mencermati kondisi kesehatan dan psikologis anggota keluarga, terutama mereka yang tengah menghadapi penyakit berat atau tekanan emosional. Dukungan lingkungan, kata mereka, sering kali menjadi benteng terpenting bagi seseorang yang sedang melalui masa sulit.
Seluruh rangkaian penanganan berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh penghormatan terhadap keluarga korban.
Humas Polres Polman







