Mamasa  

Tragedi Puskesmas Nosu: Ketika Nyawa Warga Mamasa Tidak Lebih Berharga dari Kelalaian

SWARAMANDAR.COM, MAMASA –Kematian seorang pasien di Puskesmas Nosu, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, yang viral melalui siaran langsung akun Facebook milik Irwandi, bukan hanya tragedi keluarga korban. Peristiwa memilukan itu adalah tamparan keras bagi sistem kesehatan di daerah.

Apa gunanya keberadaan puskesmas jika dalam kondisi kritis, pasien tidak mendapatkan penanganan cepat? Dalam video yang beredar, teriakan keluarga seolah tidak terdengar, sementara tenaga medis yang seharusnya sigap justru terlihat pasif.

Kita harus jujur, kasus ini bukanlah yang pertama. Di banyak daerah terpencil, fasilitas kesehatan masih dianggap sebagai formalitas. Bangunan ada, papan nama berdiri, tetapi isi dan jiwa pelayanannya kosong.

Baca Juga  HARGANAS ke-32 di Mamasa, Kadis PUPR Sulbar Dorong Infrastruktur Ramah Keluarga dan Tangguh Bencana

Buruknya pelayanan ini berakar dari dua masalah: rendahnya kualitas sumber daya manusia dan lemahnya pengawasan pemerintah. Padahal, setiap tahun anggaran miliaran rupiah digelontorkan atas nama peningkatan kesehatan rakyat.

Tragedi ini adalah alarm keras. Nyawa pasien tidak boleh dianggap enteng. Masyarakat tidak datang ke puskesmas untuk sekadar didata, mereka datang untuk hidup.

Baca Juga  Safari Ramadhan SDK-JSM, Sampaikan Dukungan dan Bantuan Untuk BPJS dan Perbaikan Infrastruktur di Mamasa

Kami menuntut evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan puskesmas di Mamasa. Kepala puskesmas dan tenaga medis yang terlibat harus diperiksa secara transparan. Jika ditemukan kelalaian, tindakan tegas wajib diambil.

Lebih jauh, Pemprov Sulawesi Barat dan Kementerian Kesehatan RI harus turun tangan. Tidak boleh ada lagi korban yang meninggal sia-sia hanya karena ketidakbecusan tenaga kesehatan di garda terdepan.

Baca Juga  220 Aset Pemkab Mamasa Raib dari Rumah Jabatan Bupati dan Wabup, Diduga Dibawa Pihak Tak Berwenang

Kita tidak ingin kejadian ini berulang. Jika dibiarkan, rasa percaya masyarakat kepada fasilitas kesehatan akan hilang. Masyarakat akan lebih memilih menempuh jarak puluhan kilometer ke rumah sakit daripada berharap pada puskesmas yang lamban dan abai.

Satu nyawa melayang di Puskesmas Nosu harus jadi momentum perubahan. Jangan tunggu korban berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *