SWARAMANDAR.COM, MAMASA –Kematian seorang pasien di Puskesmas Nosu, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, yang viral melalui siaran langsung akun Facebook milik Irwandi, bukan hanya tragedi keluarga korban. Peristiwa memilukan itu adalah tamparan keras bagi sistem kesehatan di daerah.
Apa gunanya keberadaan puskesmas jika dalam kondisi kritis, pasien tidak mendapatkan penanganan cepat? Dalam video yang beredar, teriakan keluarga seolah tidak terdengar, sementara tenaga medis yang seharusnya sigap justru terlihat pasif.
Kita harus jujur, kasus ini bukanlah yang pertama. Di banyak daerah terpencil, fasilitas kesehatan masih dianggap sebagai formalitas. Bangunan ada, papan nama berdiri, tetapi isi dan jiwa pelayanannya kosong.
Buruknya pelayanan ini berakar dari dua masalah: rendahnya kualitas sumber daya manusia dan lemahnya pengawasan pemerintah. Padahal, setiap tahun anggaran miliaran rupiah digelontorkan atas nama peningkatan kesehatan rakyat.
Tragedi ini adalah alarm keras. Nyawa pasien tidak boleh dianggap enteng. Masyarakat tidak datang ke puskesmas untuk sekadar didata, mereka datang untuk hidup.
Kami menuntut evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan puskesmas di Mamasa. Kepala puskesmas dan tenaga medis yang terlibat harus diperiksa secara transparan. Jika ditemukan kelalaian, tindakan tegas wajib diambil.
Lebih jauh, Pemprov Sulawesi Barat dan Kementerian Kesehatan RI harus turun tangan. Tidak boleh ada lagi korban yang meninggal sia-sia hanya karena ketidakbecusan tenaga kesehatan di garda terdepan.
Kita tidak ingin kejadian ini berulang. Jika dibiarkan, rasa percaya masyarakat kepada fasilitas kesehatan akan hilang. Masyarakat akan lebih memilih menempuh jarak puluhan kilometer ke rumah sakit daripada berharap pada puskesmas yang lamban dan abai.
Satu nyawa melayang di Puskesmas Nosu harus jadi momentum perubahan. Jangan tunggu korban berikutnya.







