Diikuti oleh Saskia Natasya Ilham dari Kecamatan Anreapi sebagai juara kedua, dan Alpandi dari Kecamatan Tutar yang menduduki posisi ketiga. Mereka yang tak berhasil meraih podium utama pun tak kalah bersinar. Agus dari Kecamatan Tapango, Irwansyah dari Landi Kanusuang Kecamatan Mapilli, dan Rahman dari Pussepan Kecamatan Tapango masing-masing meraih gelar juara harapan, dengan M. Padil dari Buttu Dakka Kecamatan Tapango mendapatkan predikat juara favorit.
Tak hanya parade suara, pentas seni yang menyertainya menjadi panggung gemilang bagi budaya lokal. Rebana Tamengundur menggetarkan alun-alun dengan dentingnya yang khusyuk, sementara tarian dari Sanggar Seni Mapia Art Botto memikat mata penonton dengan gerak gemulai yang sarat makna. Melengkapi suasana, irama modern dari Keyboar Disk Sulbar dan alunan dangdut koplo yang enerjik dari Projeck 12 Dangdut Koploan menggetarkan malam, mengundang decak kagum dan riuh tepuk tangan penonton.
Acara ini terselenggara berkat dukungan tulus dari para pengusaha lokal dan pemilik sound system se-Kecamatan Wonomulyo, yang bahu-membahu menjadikan pentas seni ini sebagai wadah untuk merawat budaya dan mempererat cinta akan negeri.
Di sinilah Polewali Mandar berdendang, bukan hanya melalui suara, tetapi melalui rasa cinta yang tertanam dalam setiap lantunan lagu dan tarian yang dihadirkan. Sebuah perayaan yang membuktikan bahwa seni adalah jembatan antara hati, sejarah, dan masa depan yang lebih cerah.(**)







