SWARAMANDAR.COM, MAJENE – Gelaran Sandeq Silumba 2025 kembali mewarnai lautan Mandar dengan penuh semangat budaya, silaturahmi, dan kebersamaan. Acara yang digelar di Pantai Banua Sendana, Kabupaten Majene, Sabtu (23/8/2025) malam, menjadi momentum penting bagi masyarakat Sulawesi Barat untuk meneguhkan identitas maritimnya sekaligus menggerakkan roda perekonomian kerakyatan.
Bupati Majene Dr. H, Andi Achmad Sukri Tammalele, MM. dalam sambutannya menegaskan bahwa Sandeq bukan sekadar perahu layar tradisional, melainkan simbol keberanian, ketangguhan, dan spiritualitas masyarakat Mandar yang sejak ribuan tahun telah mengarungi lautan dengan hati tak gentar. “Sandeq adalah warisan budaya maritim yang telah digunakan suku Mandar sejak 1.000 tahun sebelum masehi. Dengan kecepatan hingga 20 knot, sandeq menjadi perahu tercepat di Nusantara,” ujarnya.
Acara penyambutan peserta Sandeq Silumba ini dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Barat, Dr. H. Suhardi Duka, MM, pejabat eselon Pemprov Sulbar, Ketua DPRD Majene, kepala OPD, camat, lurah, kepala desa, hingga tokoh agama, tokoh masyarakat, dan para passandeq yang ikut serta dalam lomba tahun ini. Kehadiran para pemimpin daerah memberi semangat tambahan bagi seluruh peserta dan masyarakat Mandar.
Dalam pelayarannya, Sandeq Silumba 2025 menempuh tiga etape: dimulai dari Pamboang, berlanjut ke Banua Sendana, dan berakhir di Malunda. Sebanyak 55 perahu sandeq dilepas langsung oleh Gubernur Sulbar dari Pantai Bahari Polewali Mandar pada Kamis (21/8/2025), kemudian disambut hangat di setiap etape perjalanan.
Lebih dari sekadar lomba, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi besar masyarakat pesisir Mandar. “Dengan silaturahmi, kita bisa mempererat hubungan kekeluargaan, kebersamaan, kekompakan, dan memperpanjang umur serta melapangkan rezeki,” ungkap Dr, H. Andi Achmad Sukri Tammalele, MM.
Selain itu, Dr, H. Andi Achmad Sukri Tammalele, MM. menekankan bahwa Sandeq Silumba 2025 juga mendorong ekonomi kerakyatan. Kehadiran UMKM lokal, pedagang kecil, dan pelaku usaha di sekitar lokasi acara memberikan warna tersendiri. Ajang budaya ini sekaligus menjadi penggerak ekonomi rakyat, yang sejalan dengan visi Majene untuk maju, mandiri, dan berbudaya.
Gubernur Sulbar Suhardi Duka dalam sambutannya menyebut Sandeq sebagai simbol jiwa petarung masyarakat Mandar. Ia berharap warisan budaya ini terus dilestarikan sekaligus dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata maritim Sulawesi Barat. “Sandeq adalah identitas Mandar. Kita harus menjaga dan mempromosikannya agar semakin dikenal dunia,” ucapnya.
Suasana penyambutan di Pantai Banua Sendana semakin semarak dengan hadirnya masyarakat yang memadati lokasi acara. Mereka menyaksikan langsung kedatangan passandeq dengan penuh antusias, diiringi doa dan harapan agar perjalanan mereka selamat hingga etape terakhir di Malunda.
Bupati Majene juga menutup sambutannya dengan sebuah pantun pelaut Mandar yang menggambarkan jiwa keberanian dan ketabahan para passandeq. Pantun tersebut seakan menjadi penyemangat bagi para pelaut sejati yang tengah berlayar menantang ombak di samudra.
“Berlayar di tengah samudra luas, menatap ombak yang berdebur keras. Mencari rezeki dengan penuh waspada, mengarungi laut dengan hati yang tak gentar,” demikian penggalan pantun yang disampaikan
Dr, H. Andi Achmad Sukri Tammalele, MM. Bupati Majene di hadapan tamu undangan.
Acara ditutup dengan doa bersama agar Sandeq Silumba 2025 berjalan lancar, peserta diberikan keselamatan, dan kegiatan ini terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Harapan besar juga disampaikan agar Majene bisa tumbuh menjadi daerah yang maju, sejahtera, dan berdaya saing melalui pelestarian budaya maritimnya.
Dengan penuh kebanggaan, masyarakat Mandar meyakini bahwa Sandeq Silumba bukan hanya milik mereka, melainkan warisan Nusantara yang pantas diangkat ke panggung nasional bahkan internasional. Dari lautan Mandar, semangat pelaut sejati terus berkibar, mengantarkan Majene menuju “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.”







