SWARAMANDAR.COM, MAJENE – Nafas olahraga di pusat kota Majene kini berada di ujung tanduk. Rencana transformasi lapangan sepak bola utama menjadi arena pameran UMKM selama dua pekan memicu gelombang protes. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah mundur yang mengorbankan pembinaan atlet muda demi kepentingan komersial sesaat.
Bagi warga dan komunitas olahraga, lapangan tersebut bukan sekadar tanah lapang berumput, melainkan “laboratorium” karakter. Setiap sore, ratusan anak dari Sekolah Sepak Bola (SSB) menggantungkan mimpi mereka di sana.
Para pelatih lokal menyuarakan kekhawatiran mendalam. Memindahkan atau menghentikan aktivitas latihan—meski hanya dua minggu—dianggap sebagai sabotase terhadap konsistensi atlet.
“Latihan itu soal konsistensi dan mental. Jika ritme ini diputus paksa untuk kegiatan dagang, efek traumatis pada ekosistem pembinaan bisa dirasakan berbulan-bulan,” ungkap salah seorang pelatih senior dengan nada getir.
Secara teknis, penggunaan lapangan untuk event skala besar membawa risiko tinggi. Beban panggung, kendaraan logistik, serta injakan ribuan pengunjung berpotensi merusak sistem drainase dan struktur tanah. Publik khawatir, setelah panggung dibongkar dan tenda dilipat, yang tersisa hanyalah lapangan rusak yang butuh waktu lama serta biaya besar untuk pemulihan—biaya yang seringkali tak ditanggung oleh penyelenggara acara.
Lapangan ini merupakan benteng terakhir fasilitas publik gratis di Majene. Di sini, sekat ekonomi luruh; lansia yang berjalan santai hingga pemuda yang beradu fisik di lapangan berbagi ruang yang sama. Menjadikannya area komersial dianggap sebagai upaya “memagari” ruang publik dari rakyatnya sendiri.
Masyarakat menegaskan, protes ini bukan bentuk perlawanan terhadap kemajuan UMKM. Sebaliknya, warga menawarkan solusi alternatif seperti pemanfaatan gedung olahraga, area parkir stadion, hingga konsep street market pada ruas jalan tertentu.
Kini bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Publik menuntut kebijakan yang lebih bijak: Apakah pemerintah akan tetap memaksakan lapangan sebagai arena transaksi, atau memilih melindungi “napas” generasi muda?
“Biarkan ekonomi tumbuh, tapi jangan di atas rumput yang menjadi tempat anak-anak kami bermimpi,” tegas seorang warga, merangkum kegelisahan kolektif masyarakat Majene.
Pilihan pemerintah hari ini akan menjadi catatan sejarah: Apakah mereka lebih mencintai angka-angka transaksi, atau masa depan atlet yang kini sedang berjuang di atas lapangan hijau itu.







