Majene  

Integritas di Atas Kursi Jabatan: Kisah Kadis DLHK Majene yang Mundur Demi Hak Bawahan

SWARAMANDAR.COM, MAJENE — Di tengah kultur birokrasi yang kerap identik dengan perebutan kekuasaan, sebuah sikap langka justru lahir dari Sulawesi Barat. Inindria, SE., M.Si., Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Majene, memilih menyudahi masa jabatannya bukan karena tekanan, melainkan demi sebuah nilai yang ia pegang teguh: integritas.

Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang akrab disapa Pak Indri ini secara resmi telah mengajukan pengunduran diri kepada Bupati Majene, meski masa tugasnya masih terbuka untuk diperpanjang. Langkah tersebut sontak mengejutkan banyak kalangan, mengingat kinerjanya selama ini dinilai baik.

Di mata para pegawai DLHK, Inindria bukan sekadar atasan administratif. Ia adalah figur pemimpin yang hadir, mendengar, dan membela.

Baca Juga  Gubernur Suhardi Duka: Maulid Nabi di Salabose Bukti Harmoni Agama dan Budaya Mandar

“Beliau bukan hanya pimpinan, tapi juga guru dan orang tua bagi kami. Cara beliau membina, melindungi, dan memperjuangkan kami di tengah kerasnya sistem birokrasi adalah sesuatu yang sangat langka,” tutur seorang staf dengan mata berkaca-kaca.

Dukungan agar Inindria kembali menjabat pun mengalir deras, baik dari internal DLHK maupun dari berbagai kalangan. Namun, ia tetap memilih berdiri di atas keyakinannya.

Baca Juga  Apa Itu Kehamilan yang Tak Diinginkan di Majene

“Saya tidak pernah meminta jabatan. Kalau memang rezeki dan pengabdian saya hanya sampai di sini, saya menerimanya dengan ikhlas,” ucapnya.

Namun, alasan terdalam di balik keputusannya mundur adalah keberpihakan kepada para pegawai lapangan—para petugas kebersihan yang setiap hari bekerja di tengah panas, hujan, bau, dan kotoran, pagi hingga malam tanpa mengenal hari libur. Inindria merasa masih ada hak-hak mereka yang belum terpenuhi secara adil, dan baginya, mempertahankan jabatan tanpa mampu memperjuangkan keadilan bagi mereka adalah pengkhianatan terhadap nurani.

Baca Juga  Peringati Isra Mi’raj 1447 H, Kapolres Majene: Kedisiplinan Rasulullah Adalah Napas Pelayanan Polri

Langkah Inindria kini menjadi refleksi bagi birokrasi Indonesia: bahwa jabatan bukanlah puncak tujuan, melainkan alat untuk mengabdi. Ia pergi bukan karena kalah, tetapi karena memilih kehormatan di atas kekuasaan, dan adapun alasan lain dikarena usia dan kondisi kesehatan dan juga fokus ibada.

Majene tidak hanya mencatat berakhirnya masa jabatan seorang kepala dinas, tetapi juga mengabadikan kisah tentang seorang birokrat yang memilih jalan sunyi demi menjaga martabat, integritas, dan hati nurani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *