Mateng  

Kader IMM Mamuju Tengah: Sumpah Pemuda Harus Jadi Gerakan Nyata, Bukan Seremonial

Arinil Hidayah Ajak Perempuan Muda Ambil Peran Lewat Sekolah Rakyat

SWARAMANDAR.COM, MATENG — Di tengah gegap gempita peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, suara reflektif datang dari seorang kader muda Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Mamuju Tengah, Arinil Hidayah. Ia mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak hanya memperingati, tapi menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda dalam bentuk aksi nyata yang berdampak bagi masyarakat.

“Kita perlu mengokohkan spirit perjuangan para pemuda terdahulu, tapi tidak berhenti pada seremonial semata. Harus ada aksi nyata yang memberi dampak,” ujar Arinil dengan nada tegas namun penuh semangat.

Bagi Arinil, peringatan Sumpah Pemuda bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan waktu untuk menatap arah perjuangan bangsa ke depan. Di era serba digital dan cepat berubah ini, menurutnya, tantangan kaum muda justru semakin kompleks: bagaimana tetap relevan, adaptif, namun tetap berpijak pada nilai-nilai kebangsaan dan keadilan sosial.

Baca Juga  BreakingNews: Longsor di Poros Tobadak Topoyo Tutup Seluruh Badan Jalan

Salah satu bentuk nyata yang ia soroti adalah program Sekolah Rakyat, yang disebutnya sebagai wadah pembelajaran sekaligus pemberdayaan masyarakat. Melalui program ini, pemuda tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga penggerak perubahan di wilayah masing-masing.

“Dengan mengokohkan semangat Sumpah Pemuda, kita berharap program seperti Sekolah Rakyat bisa menjadi jembatan menuju Indonesia Emas 2045,” kata Arinil.

Ia juga menekankan pentingnya peran perempuan muda dalam proses pembangunan bangsa. Menurutnya, perempuan tidak lagi cukup menjadi pendukung di belakang layar, melainkan harus tampil sebagai pemimpin dan inovator di berbagai bidang.

Baca Juga  Kominfo Sulbar dan KI Sulbar Gencar Sosialisasi KIP, Kini Sambangi Kabupaten Mamuju Tengah

“Ketika perempuan berdaya, bangsa ini ikut kuat. Sekolah Rakyat bisa jadi ruang belajar dan pengabdian bagi perempuan muda untuk ikut membangun negeri,” ujarnya.

Arinil percaya, perubahan besar tidak selalu dimulai dari panggung besar atau kebijakan megah, tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. Mengajar anak-anak desa, membangun komunitas literasi, menggerakkan solidaritas sosial — semua itu bagian dari semangat Sumpah Pemuda yang hidup dalam keseharian.

Baca Juga  PJ Bahtiar Bagikan Benih Ikan Nila ke Sejumlah Kades, Komitmen Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

“Nasionalisme hari ini tidak lahir dari pidato atau simbol,” tuturnya, “tapi dari tindakan nyata: dari keberanian anak muda untuk peduli, berkolaborasi, dan berbuat.”

Ia pun berharap agar semangat kolaboratif lintas sektor — antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan komunitas pemuda — terus diperkuat. Dengan cara itu, nilai persatuan yang menjadi inti Sumpah Pemuda akan tetap hidup, bukan hanya di ruang upacara, tapi di jantung kehidupan sosial masyarakat.

Menutup pesannya, Arinil menyampaikan refleksi sederhana namun bermakna:
“Setiap pemuda hari ini sedang menulis ulang sejarah bangsanya. Maka, tulislah dengan tindakan yang memberi makna.”

link video bisa dilihat di : https://youtu.be/AOjCYQr6faY?feature=shared

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *