SWARAMANDAR.COM, MAMASA — Di tengah gegap gempita pembangunan dan kemajuan digital yang terus digembar-gemborkan pemerintah, masih ada kisah sunyi dari pedalaman Sulawesi Barat. Sebuah kisah tentang masyarakat yang hidup dalam kegelapan — bukan karena mereka menolak kemajuan, melainkan karena aliran listrik belum juga menjangkau tanah mereka.
Desa Gandang Dewata, yang terletak di Kabupaten Mamasa, menyimpan potret ketimpangan pembangunan yang menyesakkan. Di desa ini, terutama di Dusun Lisu, Dusun Langsa’, dan Dusun Gandang Dewata, warga masih berjuang melawan gelap setiap malam. Ketika masyarakat kota sudah membicarakan smart city dan digitalisasi pelayanan publik, warga di sini masih bergantung pada pelita minyak tanah dan kincir air sederhana untuk menerangi rumah mereka.
Di dua dusun pertama, Lisu dan Langsa’, warga menaruh harapan pada kincir air rakitan yang hanya mampu menghasilkan listrik berdaya sekitar 5.000 watt. Aliran listrik itu pun terbatas — hanya bisa dinikmati di malam hari. Saat musim penghujan, air mengalir deras dan kincir berputar stabil. Namun begitu kemarau datang, hanya dalam tiga hingga lima hari, debit air menurun drastis, kincir berhenti berputar, dan seluruh dusun kembali terbenam dalam kegelapan.
“Kalau sudah begitu, lampu mati semua. Anak-anak tidak bisa belajar, aktivitas malam berhenti total,” tutur seorang warga setempat dengan nada pasrah.
Sementara itu, Dusun Gandang Dewata menghadapi kenyataan yang lebih memilukan. Beberapa rumah bahkan belum pernah sekalipun merasakan aliran listrik. Warga hanya mengandalkan pantulan cahaya dari rumah tetangga yang memiliki sambungan pribadi. Dalam satu dusun yang dihuni puluhan kepala keluarga, hanya segelintir rumah yang bercahaya di malam hari — sisanya tenggelam dalam gelap pekat.
Padahal, wilayah ini bukan tanpa potensi. Gandang Dewata dikenal luas sebagai permata wisata alam Mamasa — panorama pegunungannya memikat, jalur pendakiannya populer di kalangan wisatawan. Namun di balik keindahan alam itu, tersimpan ironi besar: keindahan yang gelap, dan kehidupan yang tertinggal oleh arus modernitas.
Kenyataan pahit ini memantik suara keprihatinan dari para mahasiswa asal Gandang Dewata. Mereka menilai bahwa pemerataan listrik bukan sekadar persoalan penerangan, tetapi juga bentuk nyata dari keadilan sosial.
“Listrik adalah hak dasar rakyat, bukan fasilitas mewah. Di balik kabel dan arusnya, ada harapan — harapan anak-anak untuk belajar, harapan keluarga untuk berusaha, dan harapan masyarakat untuk bangkit dari ketertinggalan,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa dalam pernyataan sikapnya.
Para mahasiswa itu menyerukan agar Pemerintah Kabupaten Mamasa, PLN, dan seluruh pemangku kepentingan segera turun tangan mencari solusi konkret. Mereka menegaskan, pembangunan sejati tidak boleh berhenti di pusat kota, sementara pelosok negeri dibiarkan hidup dalam kegelapan.
Kondisi di Gandang Dewata seolah menjadi cermin bahwa semangat pemerataan pembangunan belum benar-benar merata. Infrastruktur dasar seperti listrik masih menjadi kemewahan di sejumlah wilayah, termasuk di Sulawesi Barat.
Padahal, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan menegaskan bahwa negara berkewajiban menjamin ketersediaan tenaga listrik yang cukup, berkualitas, dan terjangkau oleh masyarakat. Namun bagi warga Gandang Dewata, regulasi itu seperti hanya tulisan di atas kertas — belum menjadi kenyataan di tanah mereka.
“Anak-anak kami belajar pakai senter dari HP. Kalau baterai habis, mereka berhenti belajar. Kami cuma bisa berharap suatu hari nanti ada tiang listrik berdiri di kampung kami,” ujar seorang ibu rumah tangga di Dusun Langsa’, matanya berkaca-kaca.
Seruan mahasiswa itu menjadi suara nurani dari pegunungan Mamasa — suara yang menolak diam melihat sesama warga bangsa hidup tanpa akses energi. Mereka ingin membuktikan bahwa pembangunan bukan hanya tentang gedung tinggi dan jalan lebar, melainkan tentang kehadiran negara di setiap jengkal tanah air, dari pesisir hingga puncak gunung.
“Sudah saatnya pembangunan tidak lagi berhenti di pusat kota,” tegas para mahasiswa dalam pernyataan tertulis mereka. “Terang harus menyentuh setiap rumah, dari pinggir sungai hingga ke atas awan. Karena bagi kami, terang bukan hanya soal cahaya, tetapi tentang kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.”
Kini, dari Desa Gandang Dewata, suara itu menggema — dari desa di atas awan yang menyalakan harapan untuk Indonesia yang benar-benar merata. Sebuah seruan yang sederhana, tapi bermakna dalam:
Terang untuk semua, keadilan untuk rakyat.
Salam perjuangan, salam keadilan sosial!







