SWARAMANDAR.COM, MAJENE – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Majene kembali menggelar aksi demonstrasi, Kamis (28/8/2025). Aksi yang berlangsung hingga malam hari itu mengusung tema “Pemda Darurat Kebijakan: Apa Kabar Stimulan Tahap II”.
Dalam orasinya, massa PMII menyoroti lambannya pencairan dana stimulan tahap dua untuk korban gempa bumi di Majene. Padahal, Presiden RI melalui BNPB telah menggelontorkan dana siap pakai sebesar Rp123,2 miliar. Namun, yang baru terpakai hanya Rp73,81 miliar. “Lalu kemana sisa Rp49,39 miliar? Itu bukan angka kecil, itu adalah hak rakyat korban gempa yang sampai hari ini masih tinggal di rumah rusak,” tegas salah satu orator.
PMII menilai pemerintah daerah tidak serius dalam memperjuangkan hak-hak korban gempa. Mereka menuding Pemda Majene hanya memberi janji tanpa kepastian. “Sudah berkali-kali pemerintah bilang ‘sebentar lagi, sebentar lagi’, tapi faktanya sampai hari ini dana stimulan tahap dua belum juga cair!” seru massa aksi.
Dalam tuntutannya, PMII Cabang Majene menyampaikan tiga poin utama. Pertama, meminta transparansi penggunaan dana tahap dua. Kedua, menuntut kepastian segera dicairkannya dana tersebut. Ketiga, mendesak agar Bupati Majene, Ketua DPRD, BPBD, Dinas Perumahan dan Perkim, serta Pansus/Pokja terkait hadir langsung menjawab di hadapan rakyat alasan keterlambatan pencairan.
Massa aksi juga melayangkan kekecewaan karena hingga larut malam tidak satu pun pejabat Pemkab Majene menemui demonstran. “Kami menunggu, tapi tak kunjung ditemui. Ini bentuk pengabaian terhadap rakyatnya sendiri. Apa sulitnya berdialog terbuka di depan publik?” ujar salah seorang peserta aksi.

PMII menegaskan bahwa penyaluran dana stimulan adalah soal hak dasar rakyat, bukan sekadar angka di atas kertas. Setiap hari keterlambatan pencairan berarti memperpanjang penderitaan korban gempa. “Jangan biarkan rumah rakyat tetap rusak dan kehidupan mereka terkatung-katung. Hari ini kami berdiri tegak menuntut keadilan: hak rakyat tidak boleh ditunda lagi!” tegas mereka.
Aksi demonstrasi ditutup dengan pernyataan sikap bahwa PMII akan terus mengawal persoalan ini hingga ada kejelasan. Mereka menegaskan perjuangan akan berlanjut sampai hak-hak korban gempa benar-benar disalurkan. “Berdiri atas nama kebenaran, menumpas penindasan. Ihdinash shirathal mustaqim. Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq,” tutup massa aksi dengan doa dan pekikan semangat perlawanan.







