Kapolres Majene Duduk Bersama Mahasiswa, Pilih Minta Maaf di Tengah Demonstrasi

SWARAMANDAR.COM, MAJENE – Suasana tegang mewarnai aksi demonstrasi ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan di depan Mako Polres Majene, Sabtu (30/8/2025) pukul 14.00 hingga 16.17 WITA. Namun, di tengah panasnya orasi yang disertai cacian keras, Kapolres Majene AKBP Muhammad Amiruddin, S.I.K., justru mengambil langkah yang tak biasa. Ia memilih duduk bersama mahasiswa, mendengarkan aspirasi mereka, bahkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Aksi yang melibatkan sekitar 500 mahasiswa dari berbagai organisasi kampus ini diawali dengan long march. Massa aksi kemudian bergerak menuju Gedung DPRD Kabupaten Majene sambil membawa spanduk, poster, dan pengeras suara. Tuntutan mereka menyasar sikap aparat kepolisian terhadap sejumlah peristiwa, baik di tingkat nasional maupun lokal, yang dinilai menimbulkan luka bagi masyarakat sipil.

Gelombang orasi bergantian dilontarkan oleh para mahasiswa. Suara lantang yang menyebut aparat dengan kata-kata kasar seperti “polisi anjing” hingga “polisi pembunuh” terdengar berkali-kali dari pengeras suara. Situasi pun sempat terasa kian memanas.

Baca Juga  Samapta Polres Majene Intensifkan Patroli Kamtibmas, Cegah Kriminalitas dan Premanisme

Namun berbeda dari perkiraan banyak pihak, Kapolres Majene AKBP Muhammad Amiruddin yang hadir bersama para Kasat dan Kanit, tetap menunjukkan ketenangan. Ia tidak terpancing emosi, melainkan berjalan mendekati kerumunan mahasiswa dan kemudian ikut duduk bersila di jalan bersama mereka.

Pemandangan tersebut sontak menyita perhatian. Sorakan yang semula riuh mendadak mereda beberapa saat. Ratusan mahasiswa menoleh ke arahnya, sebagian dengan tatapan kaget, sebagian lain dengan ekspresi heran. Kehadiran sang Kapolres di tengah lingkaran massa aksi menciptakan suasana berbeda.

Dengan suara tenang, AKBP Muhammad Amiruddin menyampaikan bahwa dirinya hadir bukan untuk melawan, melainkan untuk mendengar. “Saya ada di sini mewakili kepolisian, mewakili Kapolri, dan juga secara pribadi. Jika ada luka atau kekecewaan dari masyarakat, khususnya dari teman-teman mahasiswa, izinkan saya menyampaikan permintaan maaf,” ucapnya.

Baca Juga  Penyalahgunaan Narkoba di Desa Tallu Banua Satu Orang Diamankan Saat Res Narkoba Polres Majene

Ucapan tersebut memecah suasana. Sebagian mahasiswa menyambut dengan tepuk tangan, sebagian lain tetap meneriakkan tuntutan mereka, sementara yang lain terdiam mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tak hanya mahasiswa, masyarakat yang menyaksikan aksi ini juga memberikan pandangan positif. “Sikap Kapolres patut diapresiasi. Di tengah caci maki, beliau tetap menahan diri dan memilih berdialog. Ini bukti bahwa ruang komunikasi antara aparat dan mahasiswa masih terbuka,” ujar salah seorang warga yang turut menyaksikan.

Meski permintaan maaf telah disampaikan, mahasiswa tidak menghentikan aksi mereka. Orasi dan teriakan tuntutan kembali menggema, namun kali ini suasana jauh lebih kondusif. Massa kemudian bergerak melanjutkan aksinya ke depan Gedung DPRD Majene.

Baca Juga  Dorong Swasembada Pangan, Lima Kelompok Tani di Majene Terima Bantuan Traktor Roda Empat

Sejumlah warga mengaku terkejut sekaligus salut melihat keberanian Kapolres Majene yang turun langsung ke tengah massa. Bagi mereka, langkah tersebut menunjukkan wajah humanis kepolisian di tengah gelombang kritik yang deras.

Aksi demonstrasi berlanjut di depan Kantor DPRD hingga sore hari. Meski penuh dengan suara lantang, demonstrasi itu berlangsung damai tanpa insiden berarti.

Sikap Kapolres Majene yang memilih duduk bersama mahasiswa dan menyampaikan permintaan maaf terbuka menjadi catatan penting. Bagi publik Majene, momen tersebut bukan sekadar peristiwa, melainkan simbol harapan bahwa hubungan antara aparat dan gerakan mahasiswa bisa dibangun dengan dialog, bukan dengan konfrontasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *