SWARAMANDAR.COM, MAJENE – Di tepi pantai yang tenang di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, semangat perlawanan justru berkobar. Puluhan kader Kesatuan Aksi Komite Aktivis Mahasiswa Rakyat Indonesia (KAMRI) berkumpul dalam sebuah konsolidasi ideologis yang menegaskan satu pesan utama: perjuangan belum usai, dan generasi penerus harus disiapkan sejak sekarang.
Dengan bendera organisasi berkibar dan yel-yel perjuangan menggema, KAMRI menegaskan eksistensinya sebagai gerakan mahasiswa yang menolak stagnasi. Organisasi ini hadir sebagai kritik atas melemahnya militansi gerakan, sekaligus jawaban atas organisasi-organisasi yang dinilai terjebak dalam zona nyaman dan kehilangan arah sejarah.
“KAMRI lahir sebagai antitesis. Kami menolak menjadi penonton dalam dinamika sosial dan politik bangsa. Kami hadir untuk menjadi pelaku perubahan,” tegas salah satu perwakilan Comite Kota Majene KAMRI dalam orasi ideologisnya.
Dalam pernyataannya, Ketua KAMRI komite kota majene Muhammad Firzam menegaskan posisinya sebagai ruang kaderisasi—yang mereka sebut sebagai “rahim perjuangan”—untuk melahirkan generasi revolusioner yang progresif dalam berpikir, militan dalam bertindak, serta sadar akan identitas dan tanggung jawab sejarahnya.
Kegiatan konsolidasi tersebut diisi dengan berbagai agenda strategis, mulai dari diskusi ideologi dan analisis sosial-politik, pelatihan kepemimpinan, hingga simulasi lapangan yang dirancang untuk menguji daya tahan fisik dan mental kader. Seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk membentuk karakter kepemimpinan yang tangguh dan responsif terhadap realitas rakyat.
“Pemimpin tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dari proses panjang yang penuh ujian. Revolusi mental tidak dibentuk secara instan,” ujar salah satu kader senior KAMRI dalam sesi refleksi perjuangan.
Tak hanya fokus pada penguatan internal, KAMRI juga menyatakan komitmennya membangun kolaborasi dengan berbagai elemen gerakan progresif. Mereka meyakini bahwa perubahan sosial tidak bisa diwujudkan secara parsial, melainkan melalui kekuatan kolektif yang terorganisir dan berkesinambungan.
Puncak kegiatan ditandai dengan upacara ikrar perjuangan. Para kader secara bergiliran mengangkat tangan dan menyatakan sumpah setia untuk terus berada di barisan rakyat, menjaga idealisme, dan tetap berjuang meski dihadapkan pada tekanan dan tantangan zaman.
Di tengah arus modernisasi yang kerap melahirkan sikap apatis dan individualistis, KAMRI menegaskan sikapnya untuk tidak hanyut. Bagi mereka, masa depan bangsa bukan sesuatu yang ditunggu, melainkan direbut melalui kesadaran, keberanian, dan strategi perjuangan.
“Perjuangan ini adalah estafet sejarah. Kami mungkin hanya satu mata rantai, tetapi kami bertanggung jawab memastikan rantai itu tidak pernah terputus,” ujar Ketua KAMRI komite kota majene Muhammad Firzam
Konsolidasi di Majene tersebut menjadi penanda bahwa api perjuangan belum padam. Ia hanya menunggu generasi yang berani untuk kembali menyalakannya. Dan dari tepi pantai di Majene, KAMRI menyatakan kesiapan untuk terus melangkah maju—membawa harapan akan lahirnya generasi muda yang kritis, tangguh, dan tak pernah menyerah pada keadaan.







