Oleh:
Muhammad Yusuf, S.H., M.H.
Kamis, 19 Maret 2024, pukul 16.00 WITA. Kabar duka menyebar begitu cepat, meninggalkan luka yang terasa lebih dalam dari sekadar kehilangan biasa. Hari itu, kami kehilangan seorang putra terbaik Mamuju, lahir 1 Oktober 1947 yang telah berdiri kokoh di garis terdepan pertahanan budaya kita.
Kepergiannya bukan sekadar meninggalkan duka, tetapi juga kekosongan yang terasa begitu nyata. Seolah sepotong identitas Mamuju turut pergi bersamanya.
Bagi saya, almarhum bukanlah sekadar tokoh masyarakat. Beliau adalah “penjaga gawang” budaya yang se sesungguhnya sosok yang berdiri di garis terakhir pertahanan, memastikan jati diri Mamuju tidak roboh dihantam arus zaman.
Sebagai salah seorang to Mana’ yang memegang teguh amanat orang Mamuju, beliau menghayati betul filosofi Manakarra: “pusaka yang sakti” dan “petunjuk”. Dalam pemaknaan yang lebih dalam, Mana’ Makarra berarti “amanah yang teguh”—sebuah mandat yang diembannya dengan penuh tanggung jawab hingga akhir hayat.
Namun kini, setelah kepergiannya, sebuah pertanyaan sederhana namun menohok menghantui kita semua. Siapa yang akan berdiri di gawang itu setelah beliau tiada?
Bahasa yang Terancam, Identitas yang Dipertaruhkan
Almarhum tak pernah lelah mengingatkan kita dengan satu pesan sederhana namun dalam. “Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah nilai-nilai luhur.”
Hari ini, kita harus berkaca dengan jujur—bahasa Mamuju sedang berada di ambang krisis. Ia mulai jarang terdengar, bahkan di ruang-ruang yang paling semestinya menjadi benteng pertahanannya, di rumah-rumah kita, di lingkungan sekolah, di ruang publik Mamuju sendiri. Ironisnya, kita kerap lebih fasih mengadopsi bahasa dan budaya luar, namun gagap mempertahankan warisan leluhur sendiri.
Kita lupa, kehilangan bahasa bukan sekadar kehilangan kosakata. Lebih dari itu, kehilangan bahasa berarti kehilangan cara berpikir, kehilangan rasa, dan pada akhirnya, kehilangan jati diri sebagai To Mamuju yang sesungguhnya.
Pesan yang Menampar, Kesadaran yang Terbangun
Saya harus mengakui sesuatu dengan jujur, kesadaran saya untuk belajar sejarah dan budaya Mamuju tidak datang lebih awal. Ia lahir justru dari kegelisahan yang ditanamkan almarhum dari pesan-pesannya yang keras, jujur, bahkan terasa menampar.
Teguran itulah yang menjadi titik balik bagi saya.
Dari sanalah saya mulai belajar, menggali, dan memahami sejarah leluhur. Meski saya sadar, mungkin itu datang terlambat. Namun bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?
Dan saya yakin, saya tidak sendiri. Kegelisahan serupa juga dirasakan banyak generasi Mamuju lainnya. Kita semua tersentak oleh suara beliau yang terus mengingatkan bahwa kita hampir kehilangan diri kita sendiri.
Pesan-pesan itu kini menjadi warisan berharga yang terus menggema di hati setiap anak Mamuju yang peduli.
Dari Warisan Pemikiran Menuju Gerakan Nyata
Kabar baiknya, semangat yang diperjuangkan almarhum tak berhenti pada gagasan. Hari ini, melalui kepemimpinan Bupati Mamuju, Hj. Sitti Sutinah Suhardi, semangat itu mulai menemukan jalannya dalam bentuk kebijakan nyata.
Program “Taki Maqbasa Mamuju” diluncurkan bukan sebagai gerakan simbolik semata, melainkan langkah strategis penyelamatan budaya.
Pesan Ibu Bupati sangat gamblang. “Bahasa harus hidup di rumah, di sekolah, dan di ruang publik.”
Ini bukan sekadar program pemerintah. Ini adalah jawaban nyata atas kegelisahan yang selama bertahun-tahun disuarakan almarhum.
Ketika bahasa Mamuju mulai diajarkan sebagai muatan lokal di tingkat SD dan SMP, sesungguhnya kita sedang menanam kembali akar-akar budaya yang hampir tercabut.
Namun kita juga harus jujur program pemerintah tidak akan berarti apa-apa tanpa kesadaran kolektif masyarakat. Kebijakan hanyalah kerangka; ruhnya ada pada kita semua.
Kritik yang Harus Kita Terima dengan Lapang Dada
Kita, orang Mamuju, sering dengan bangga menyebut diri sebagai pewaris budaya besar. Namun dalam praktik sehari-hari, sungguhkah kita layak menyandang predikat itu?
Mari kita bertanya pada diri sendiri: Bukankah kita masih malu menggunakan bahasa sendiri di ruang publik?
Bukankah kita justru lebih bersemangat mengenalkan budaya asing kepada anak-anak ketimbang budaya sendiri? Bukankah kita selama ini menjadikan budaya sekadar tontonan seremonial, bukan tuntunan hidup?
Ini bukan sekadar kelalaian biasa. Ini adalah bentuk perlahan dari pengkhianatan terhadap identitas kita sendiri.
Almarhum pernah berpesan dengan nada yang terus menggema di hati saya: “Jangan sampai kita berteriak tidak ada yang peduli, padahal tangan kita sendirilah yang membiarkannya mati.”
Kritik ini harus kita terima. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk bangkit bersama.
Mamuju: Bukan Sekadar Wilayah, Tapi Peradaban
Mamuju—Bumi Manakarra, “Tampo Pembolongang” bukan sekadar ruang geografis. Ia adalah rumah nilai, rumah sejarah, dan rumah kebudayaan. Kita diberkahi garis pantai terpanjang, kekayaan laut melimpah, serta potensi pertanian dan pariwisata yang luar biasa. Namun tanpa fondasi budaya yang kuat, semua kekayaan fisik itu akan kehilangan arah dan makna.
Pembangunan Mamuju tidak boleh hanya berorientasi pada kemajuan fisik dan ekonomi semata. Ia harus berakar pada nilai-nilai budaya. Karena kemajuan tanpa identitas adalah kehampaan—bangunan megah tanpa fondasi yang siap roboh kapan saja.
Dari Kehilangan Menuju Kebangkitan
Kepergian almarhum adalah kehilangan besar bagi kita semua. Namun yang lebih berbahaya adalah jika kehilangan itu tak melahirkan kesadaran baru. Jika duka hanya berhenti sebagai duka, tanpa menjelma menjadi gerakan.
Almarhum telah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Kini, jembatan itu tak boleh runtuh. Tanggung jawab itu telah berpindah ke pundak kita semua—setiap generasi Bumi Manakarra.
Mari kita berhenti menjadi penonton di rumah sendiri. Mari kita mulai dari hal-hal sederhana:
· Gunakan bahasa Mamuju dalam percakapan sehari-hari, mulai dari rumah kita masing-masing
· Pelajari dan ajarkan sejarah Mamuju kepada generasi muda
· Dukung gerakan Taki Maqbasa Mamuju sebagai gerakan bersama, bukan sekadar program pemerintah
· Jadikan budaya sebagai identitas hidup, bukan sekadar simbol dalam acara-acara tertentu
Pada akhirnya, budaya tidak akan hilang karena zaman berubah. Budaya akan hilang jika—dan hanya jika—kita sendiri yang memilih untuk tidak menjaganya.
Selamat jalan, Penjaga Gawang Budaya kami.
Engkau telah gugur di garis pertahanan terdepan. Kini, biarlah kami—anak-anak Mamuju—yang akan berdiri menggantikanmu. Apa yang pernah engkau ajarkan akan menjadi penerang, apa yang pernah engkau perjuangkan akan menjadi amal jariah yang tak pernah putus.
Semoga engkau beristirahat dengan tenang di sisi-Nya. Dan semoga kami, yang kau tinggalkan, diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuanganmu: menjaga bahasa, merawat budaya, dan membanggakan Mamuju.
“Mamuju bukan sekadar tempat kelahiran. Ia adalah rumah jiwa yang harus kita jaga selamanya.”
Penulis adalah Pemerhati Budaya Mamuju, saat ini menjabat sebagai Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Mamuju.







