SWARAMANDAR.COM, POLMAN – Masyarakat di berbagai daerah mungkin mengenalnya sebagai “lepuk lepuk” atau “cecendet” dalam bahasa Sunda, namun di dunia kesehatan buah ini populer dengan nama ciplukan (Physalis angulata). Meski bentuknya mungil dan tumbuh liar, ciplukan memiliki segudang manfaat yang membuatnya semakin diminati.
Buah ciplukan dibungkus kelopak tipis menyerupai lentera kertas, berwarna hijau saat muda, lalu berubah menjadi kuning keemasan atau oranye ketika matang. Rasanya manis dengan sedikit asam yang menyegarkan, menjadikannya favorit untuk dikonsumsi langsung maupun diolah menjadi campuran salad, smoothie, atau selai.
Tak hanya nikmat, ciplukan dipercaya bermanfaat bagi kesehatan. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, seluruh bagian tanaman ini – mulai dari buah, daun, batang hingga akar – dapat dimanfaatkan. Ciplukan diketahui membantu menurunkan kadar gula darah, menjaga kesehatan jantung, menurunkan kolesterol, membantu detoksifikasi tubuh, menyehatkan kulit, hingga mengatasi berbagai keluhan seperti hipertensi, diabetes, bisul, dan gusi berdarah.
Di tengah tren hidup sehat dan konsumsi pangan alami, ciplukan menjadi alternatif menarik bagi masyarakat. Dari kebun liar hingga meja makan, “lepuk lepuk” membuktikan bahwa ukuran kecil bukan berarti manfaatnya sepele.







