SWARAMANDAR.COM, POLMAN.
Sore itu, ombak di pesisir Lingkungan Sappoang bergulung tenang. Nelayan dan warga sekitar tengah beraktivitas seperti biasa, tak menyangka ketenangan akan pecah oleh jeritan minta tolong yang memecah udara,.saptu 9/8/25. 15.15 Wita.
Di sebuah warung kecil di tepi pantai, perselisihan lama antara dua keluarga kembali menyala. Rita, istri Ummang alias Bapa Ciwang (46), mendatangi rumah tetangganya, Sahril alias Bapa Dirga (42), dengan amarah yang tersimpan. Kata-kata tajam berbalas dengan nada tinggi. Tak lama, korban diminta datang ke warung pelaku.
Ketika Sahril tiba, pintu WC di warung itu menjadi sasaran kemarahannya. Kayu pintu patah, suara retakan menjadi pemicu tak terelakkan. Dari dalam, Ummang keluar — parang panjang sudah tergenggam erat, matanya diliputi bara.
Ayunan pertama mengarah ke leher korban, namun tangan korban berhasil menangkis, meski jari kelingkingnya hampir terputus. Ayunan kedua menghantam dada kanan, membuat tubuhnya tersentak. Ayunan ketiga merobek paha kanannya, membuat darah bercucuran ke pasir pantai.
Dengan tubuh lemah, korban mencoba berlari, namun langkahnya terseret-seret. Pelaku mengejar, napasnya memburu. Warga yang panik berhamburan, sebagian berusaha menahan pelaku, sebagian lagi mengevakuasi korban ke warung kakaknya.
Sesampainya di Puskesmas Binuang, tubuh korban penuh luka: dada terbuka, paha robek, bibir atas lecet, dan jari yang nyaris tak utuh lagi.
“Pelaku dan korban ini sebenarnya keluarga, tapi hubungan mereka memang renggang. Pernah ada masalah soal pembangunan WC umum di dekat tempat tambat perahu korban,” ujar Kapolsek Binuang, Iptu Rahman, dengan nada prihatin.
Kini, parang panjang yang menjadi saksi bisu amarah itu diamankan polisi. Pelaku digiring ke Mapolres Polman untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, luka yang tertinggal di hati keluarga — dan di ingatan warga Sappoang — mungkin tak akan pernah benar-benar sembuh.







